Kesalahanku (Ortu) Mempersiapkan Sekolah Anak

Kesalahanku (Ortu) Mempersiapkan Sekolah Anak ~ Halo Wanita.  Waktu terus berjalan.  Kini kedua anakku sudah menanjak dewasa.  Yang paling sulung sudah naik ke kelas tiga SMA, sedangkan adiknya baru mulai masuk SMA tahun ini.  Aku sangat bersyukur, secara akademik anak-anakku tidaklah mengecewakan. Bahkan dalam bidang tertentu anak-anakku lebih menonjol.

Kesalahanku (Ortu) Mempersiapkan Sekolah Anak

Seperti tahun-tahun yang lalu, setiap mulai tahun ajaran baru, aku selalu sibuk mempersiapkan segala kebutuhan sekolah anak.  Mulai pakaian atas yang banyak macamnya, sepatu, tas sekolah termasuk perlengkapan ATK (buku tulis dll).  Biasanya kalau buku, aku selalu membiasakan anak-anak memiliki sampul ditambah dengan lapis plastik, sehingga terlihat rapi.

Berjalannya sang waktu, sekarang aku merasa ada yang aneh dari kesenanganku/keasyikanku dalam mempersiapkan perlengkapan sekolah anak.  Bahkan setelah selesai memberi sampul buku, aku mencoba masuk kamar anak-anak untuk melihat apa yang dikerjakannya. OMG...ternyata mereka asyik berchating internet dengan teman-temannya. Aku mulai berpikir bahwa sudah saatnya aku memerlukan evaluasi dari yang kukerjakan. Inilah hasil evaluasinya...

1. Lupa Anak Sudah Besar
Ternyata orang tua masih merasakan bahwa anaknya masih Kecil seperti beberapa tahun lalu. Dia lupa, kini si kecil tersebut sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Orang tua ingin bahwa anaknya tersebut masih suka manja dengan dirinya. Kenyataannya, anaknya tersebut sudah punya teman curhat selain ibunya.

2. Terlalu Asyik Menyukai Pekerjaan
Mungkin ini adalah kesalahan besar yang dilakukan seorang ibu sekaligus sebuah kehebatan yang dimiliki seorang ibu.  Coba lihat, seberat apapun pekerjaan rumah, namun dapat diselesaikan dengan cepat dan baik. Padahal pekerjaan rutin tersebut kadang membuat sang ibu boring. Tapi karena disukai dan ikhlas dalam mengerjakannya maka kerjaannya beres. TAPI bila itu berkaitan dengan pekerjaan rumah, ini adalah BUKAN.  Maka sebaiknya ibu-ibu haarus cepat menyadari, bahwa keasyikannya harus dihentikan.  Ajak anak tersebut mendampingi dirinya untuk membantu menyelesaikan persiapannya sendiri.

3. Tidak Melatih Anak untuk Mandiri
Sudah pasti, bila hal ini terus menjadi kebiasaan, maka akan berdampak kepada kemandirian si anak.  Padahal kemandirian anak sangat kita perlukan untuk si anak dapat mengatasi segala macam bentuk halangan yang ia dapatkan dalam menjalani kehidupannya kelak.  Berilah kesempatan, waktu dan kepercayaan kepada sang anak untuk dapat melakukan pekerjaannya sendiri.  Awalnya memang tidak sesempurna seperti yang ibu kerjakan, tapi hasil awalnya tersebut adalah bukti dari tanggungjawab kemandiriannya.

Itulah hasil evaluasi singkat perjalanan hidupku dalam mempersiapkan perlengkapan sekolah anak.  Kalau ibu..?!

Saya hanyalah Blogger pemula yang suka belajar. Jangan lupa komentarnya ya. Semoga Blog ini bermanfaat. Aamiin YRA....

Terima Kasih Komentar yang Diberikan [No SPAM, No PORN, No JUDI]
EmoticonEmoticon